Rabu, 13 Januari 2016

bersyair



Ajari Aku Kisah Indah




Sang pengenggam jagat angkasa raya
Tak tahu harus kumulai dari mana
Kisah indah
Cerita yang agung
Tentang cita cintanya
Yang menyibak segala resah
Dan mengubah air muka
Sehingga tak terbaca
Tersesat dalam jalan
Tiada terusan
Terarah suatu perkara
Tanpa penghabisan
Layak embun yang terubah
Takdirnya menjauhi daun
Terlilit angin dan menghilang

Puisi galau



Dalam Linangan Air Mata






Kau bagaikan kerdip lilin dalam kegelapan
Kau bagaikan cahaya bulan dalam keremangan
Kau bagaikan alunan sebuah nada yang indah dalam kesunyian
          Kau hidup dalam kalbuku
          Tak pernah mati
          Walau nafas tak lagi mengiringi
          Kau bagaikan sebuah kapal kecil yang mengajakku berlayar
          Ke tengah samudra kehidupan
Kau mengajarkanku banyak hal
Tentang cinta . . .
Tentang hidup . . .
Tentang perpisahan . . .
          Saat kita bersama
          Menangis . . . tersenyum . . . berbagi
          Merupakan sebuah kehangatan
          Yang mampu mengalahkan hangatnya sinar matahari
Sungguh aku tak pernah berharap
Kan berpisah denganmu
Tapi apalah dayaku
Bila waktu telah berputar

Nyerrpeeennnn........................



    UNTUK SELAMANYA
             

 

 Najwa mulai membuka matanya perlahan. Sekelilingnya mulai terang artinya pagi sudah datang. Matanya terasa sangat berat, tetapi tidak untuk tidur kembali, matanya melirik jam kecil yang ia taruh di meja dekat ranjang, teryata jam sudah menunjukkan pukul enam pagi najwa bangun dengan tergesa-gesa sampai ia menabrak pintu kamarnya, ia bergegas untuk berangkat ke sekolah.
                Dengan langkah  cepat najwa menelusuri jalan-jalan menuju kelasnya, hampir tak satupun orang  yang tampak.....tentu saja, bel masuk telah berbunyi 3 menit yang lalu. Gara-gara tadi malam melihat film bagus bangunnya jadi kesiangan dan akhirnya.....terlambat. Semoga saja pak Hari, guru bahasa indonesia belum masuk kelas kalau sudah terpaksa ia harus menggadap guru piket terlebih dahulu.
               Selamat pagi najwa.....” sapaan ramah sudah sepagi ini, sebuah kepala muncul dari balik pintu kelas yang terbuka. “ Pagi vel.....duluan ya !” sapanya halus, enggan menanggapi  cowok  ini.....agak aneh bicaranya; “ Buru-buru amat, pak Hari kan belum datang....., lihat-lihat kamu tambah cantik  aja, mata kamu bagus deh naj.....” najwa menatap dengan sebal, inilah yang tidak disukainya dari cowok itu.....selalu mengingatkannya pada miliknya yang sebenarnya tidak di inginkannya mata biru dan rambutnya yang kemerahan membuatnya berbeda dengan teman-temannya dan selalu jadi pusat perhatian.
               Dipercepat langkah kakinya dengan tergesa-gesa. Tapi, tak berlangsung lama.....tubuhnya menabrak sesuatu yang keras. “ Maaf.....” serunya buru-buru pada sosok yang mengambil bukunya yang telah berjatuhan. “ Nggak papa.....” bukan kamu yang salah, kebetulan.....” suara itu berhenti ketika selesai mengambil bukunya dan kemudian melihatnya. Entah mengapa najwa merasa kalau orang di hadapannya menatap dengan mata tak suka, padahal tadi suara itu terdengar sangat ramah.
               Najwa menatap heran cowok yang meninggalkannya tanpa permisi ketika dibelakangnya terdengar suara berdehem. Astaga.....,” pak  Hari ..... buru-buru dipercepat langkahnya. “  Bel istirahat betbunyi najwa bersama teman-temanya menuju ke kantin..... “eh, ada bule yang suka gado-gado.....! “ najwa menundukkan muka, matanya melebar “ astaga “ wajah  di depannya menatap tidak suka. Kemudian najwa melanjutkan makan dengan berdebar.....menanti ucapan pedas apalagi yang diucapkan kepadannya.
               Sudah sebulan lebih ia menjadi anak baru di sekolahnya. Menyenangkan sekali sebetulnya.....semua teman-temannya baik hati, ramah dan akhir-akhir ini mereka sudah terbiasa dengannya, tak lagi menatapnya dengan pandangan yang aneh bahkan dia di percaya untuk mewakili kelasnya dalam pensi antar kelas membawakan salah satu tarian jawa yang di kuasainnya.
               Hanya saja orang yang menjengkelkan itu tetap memusuhinya bila mereka bertemu . Selalu saja mengejeknya, “ Bule” sebutan itu selalu di ucapkan, benci sekali ia mendengarnya, seandainya mamanya orang indonesia asli dan tidak berdarah jerman, yang memiliki mata biru dan rambut kemerahan. Ia menghela nafas panjang. Kenapa ia tidak mirip papanya yang berambut hitam dan mata yang hitam . Hanya hidung dan kulitnya yang agak kuning menurun papanya tak seperti mama yang berkulit putih pucat.
               Kalau begini ingin sekali ia pulang ke solo tinggal bersama eyang putri lagi. Hanya saja papa dipindah tugas di kota besar ini mengharuskan mama dan dirinya untuk mengikuti papanya. Lama-kelamaan najwa makin heran begitu mengetahui kalau veno ternyata cowok yang baik dan lucu, pinter juga ramah. Hanya kepada dirinya ia begitu benci, sebenarnya cowok satu ini menarik sosoknya, tinggi, tegap, memiliki alis tebal dan bermata tajam tapi lembut, persis seperti mata papa. Terhadap teman-teman yang lain sikapnya begitu ramah berbeda dengan vel, andrean atau gabriel yang selalu mengejarnya, berlomba-lomba untuk menarik perhatiannya, tapi veno, “ tidak “ malah cowok itu membencinya.....kenapa ? Apakah karena papanya berselingkuh..... ? menurut rena, hampir 2 minggu veno tak masuk sekolah untuk memata-matai papanya. Itulah kenapa ia tak pernah melihat wajah itu sebelumnya. Sejak itu veno pendiam tak lagi aktif dalam kegiatan sekolah dan jarang masuk kelas. Tapi tetap baik pada teman-teman yang lainnya.....kecuali dirinya.
               Bule kok namanya najwa.....nggak pantas ! . “ sebuah suara berat membuyarkan lamuannya, “ veno “ najwa melihat pandangannya ke seluruh kelas, tak ada orang hanya ada cowok itu tiba-tiba jantungnya berdebar keras ketika cowok itu menghampiri.....hatinya menjadi gelisah, menyesal sekali ia tadi menolak ajakan rena ke kantin “ Tuhan.....tolong aku hindarkan dari cowok ini.....” bisiknya dalam hati. “Heh.....” kamu lahir dimana..... ? cowok itu duduk di hadapannya dengan cuek, hanya beberapa centi jarak di antara mereka, jenuh sekali rasannya.....tiba-tiba veno tertawa keras. “ bule kok pemalu.....sudah sana pulang kenegaramu ! “ ditatapnya cowok itu dengan marah, habis sudah kesabarannya digebrakkan meja dengan kasar. “ sebenarnya mau kamu apa sih ?.....dengarnya. Selama ini aku gak pernah memusuhimu tiba-tiba kamu menggusikku, menggangguku, dengan kata-kata yang nggak pantas kamu ucapkan.....saya lahir disini di besarkan disini.....dan kamu gak berhak mengusir saya.....seharusnya kamu malu....., nggak pantas mengaku memiliki negeri ini, meski kamu memiliki ciri-ciri orang indonesia karena kamu nggak punya sopan santun, nggak ramah.....,padahal itu yang di kenal bangsa lain pada diri kita.....kasihan ibumu, mendidikmu dengan susah payah, hingga kamu besar.....tapi kamu tak punya sopan santun sama sekali, “ suara najwa terdengar serak, mata bagusnya mengeluarkan air mata, mencoba menahan emosi.....di langkahkan kaki dengan tergesa..... meninggalkan veno yang terdiam menatap kepergiannyaa.
               Malam yang sepi.....najwa melamun sendirian, meski pandangannya tertuju layar telivisi tapi pikirannya melayang jauh. Dihirupnya coklat susu di hadapannya.....tiba-tiba bayangan veno melintas, cowok yang akhir-akhir ini semakin mengganggu pikirannya. Sejak ia mengucapkan kata-kata keras kemarin cowok itu berubah 180 derajat, tak lagi mengganggunnya, bila mereka berpapasan, mata itu menatapnya dengan sorot yang aneh.....jika sudah begitu. Ia hanya dapat menundukkan muka tak kuasa melihat mata tajam itu. Menurut reza akhir-akhir ini veno sudah dapat tersenyum, mulai aktif dalam kegiatan di sekolah dan tak lagi membolos.....nilai-nilai pelajarannya juga sudah mulai bagus.
               “Bintang-bintang yang bersinar terang, membuat kesunyian malam menjadi berarti gadis enam belas tahun ini dengan  asyik melamun,  sebuah suara mengejutkannya. “ ada temannya mbak najwa.....” Suara si mbok menyadarkannya.” Siapa.....” kalau vel bilang aja gak ada mbok.” Najwa memperhalus suarannya.” Bukan, yang ini lain orangnya gagah, sopan, baik ..... mbak Najwa tersenyum ada-ada saja pembantunya yang satu ini pelan najwa melangkahkan kaki menuju ruang tamu dengan dahi berkerut..... langkahnya berhenti ketika melihat cowok yang tengah memandangi fotonya dalam busana jawa’ itu fotoku waktu tante ranum adek papa menikah.....!! ‘ serunya pelan tapi  mimpi membuat cowok itu terlonjak kaget.’ Kaget ya.....! ...Ma’af ,’ Veno tersenyum malu ,wajahnya merunduk ..... sambil sesekali memandangnya wajah dihadapanya. Tak tega najwa melihat cowok yang biasanya terlihat galak itu kini kelihatan begitu salah tingkah.’ Dari mana tadi.....? tanyanya ramah , cowok itu melihat.. , wajah cantik itu tersenyum.” Dari rumah,sengaja aku kesini ..... mau minta ma’af, sory,, kalau dulu aku pernah menyakiti hatimu.....’ dengan suara yang halus. Buru-buru najwa memotong bicaranya.’ Sudah dari dulu kamu saya ma’afkan, saya yakin kamu tidak sejahat itu’ ucapnya manis, veno tersenyum mendengarnya’ kamu memang baik naj, aku yang bodoh nggak bisa membedakan persoalan yang satu dengan yang lain. ! maksud kamu.....!  Najwa menatap tak mengerti veno menghela nafas panjang .’ kamu tau kalau papaku selingkuh dengan wanita lain. Aku marah sekali  waktu itu.....2 minggu aku mengikuti kemana saja papa pergi, sampai  aku mengetahui kalau papa berselingkuh dengan tante claudy, teman bisnis papa yang berkebangsaan australia, aku sangat marah Naj, tapi nggak tau harus berbuat apa..... sampai aku melampiaskan kemarahanku kepadamu.’’ Najwa terkejut mendengarnya, mata birunya menatap veno yang kelihatannya begitu kuyu .’’ tapi aku sadar kamu gak ada hubungannya dengan persoalan kami, apalagi kata-katamu kemarin semakin membuatku begitu malu padamu.’’ Ma’afkan aku ..... aku tak bermaksud menyakitimu .’’ nggak papa , memang aku pantas menerimanya . untunglah akhirnya papa sadar, mama memang wanita tegar..... nggak pernah mengeluh, meski saya tau hatinya hancur , dan tante claudy akhirnya kembali kenegaranya..... oh, ya ..... maukah kamu bertemu mamaku, beliau inggin sekali berbicara dengganmu.’’ Ami [ sepupuku ] yang cerita , dia tau kalau diam-diam aku menyimpan fotomu, saat kau menari dulu , ..... maaf.’’ Pipi itu merah menahan malu , jadi selama ini veno memperhatikannya, semantara di sudut yang paling dalam, rasa syukur terucap..... Terimakasih tuhan , dalam hati veno berkata: Syukurlah tuhan kau berikan kekuatan pada Merpati  itu untuk mengobati sayapnya yang terluka.
              Kini veno dan najwa pun  jadian, dalam hatinya  berhias keindahan sang rembulan dan bintang cinta ini takkan parnah terhapuskan selama kau masih menemani hatiku,,, Untuk Selamanya [ CERMIN]



                                  

PUISI PENDIDIKAN



PEJUANG PENDIDIKAN



Di kolong – kolong perjuangan pendidikan
Bersenandung mangharap belas kasihmu
Pandanganku yang kian hampa
Sesuap nasi pun tak kunjung tiba
Melihatmu aku tak peduli
Bukan wakil rakyat tikus berdasi
Aku memang mlarat 
Aku memang mlarat 
Aku memang mlarat
            Bukan seperti tikus – tikus keparat
Yang doyan uang rakyat
Haus harta bagaikan lintah darat
Masih terdengar jeritan dan tangisan
Dari anak yang berjuang dan demi pendidikan
            Kau butakan matamu
            Kau tulikan telingamu
Takut kehilangan harta itu sifatmu
Takut kehilangan kehormatan pun itu sifatmu
Kau lebih hina dari seekor buaya
            Ketika bayi – bayi itu menangis lelehkan air mata
            Anak – anak merajuk mengumbar air mata
            Ibu – ibu bersedih mengumbar air mata
            Kaum buruh berurai dengan air mata
            Badut – badut tertawa dengan air mata
            Kini semua paham, kini semua tahu
            Bahwa sungai air mata bukan mimpi bukan hayalan
            Airnya jernih bagai telaga tak banjir di musim penghujan
            Tak kering di waktu kemarau tiba
Dan ketika ku buka lembaran – lembaran masa lalu
Dimana banyak tersimpan kenangan , perjuangan dan kepahitan
Terfikir di benakku
Betapa pedih dunia ini
Menyiksa, membunuh, memfitnah orang yang tak bersalah
Hari demi hari berlalu, tahun demi tahun menepi
Lahirlah.....
Seorang pembawa kebenaran
Penegak pendidikan, pemberi cahaya kalbu
Yang mnerangi dunia gelap akan kemaksiatan dan kemusrikan
Dia adalah bapak dan ibu guru
            Dari itu aku semakin tegar
            Menatap senja yang mulai memudar
            Menyelimuti hari dengan gelap
            Dengan suara lirih aku berucap
            Esok masih ada mentari yang akan menemani
            Toh waktu jua yang akan mendewasakan jiwa dan pikiran
Sekali lagi aku membatin
Yah... kesedihan adalah bayangan bahagia
Dengan kesedihan jiwa akan damai merasakan nikmatnya bahagia
Jangan engkau berani bermimpi
Jangan engkau berani berharap
Karena harapan akan membutakan matamu
            Pasti!!!..... dan yakinlah bahwa kesedihan adalah bayangan bahagia
            Siapkan jiwa dan nurani tuk menjadi pelajaran bahagia
            Terima kasih bapak dan ibu guru